AI tingkatkan tekanan panas pada data center di Hong Kong
Klaster Sandy Ridge diperkirakan bisa menyedot listrik hingga 1,75 miliar kWh per tahun.
Operator data center di Hong Kong mungkin perlu melangkah lebih jauh dari sekadar persyaratan efisiensi energi wajib, seiring kecerdasan buatan (AI) yang mendorong konsumsi listrik dan panas semakin tinggi, di tengah kota yang memanas lebih dari dua kali lipat lebih cepat dibanding sebelumnya, menurut para analis.
“Pemerintah atau pemilik data center bisa mempertimbangkan untuk menetapkan target absolut untuk energi, air, dan karbon, selain target efisiensi yang sudah ada,” ujar Harry Lai, Executive Director Hong Kong Green Building Council, dalam jawaban tertulis melalui email.
Pemerintah akan memperluas persyaratan efisiensi energi wajib ke sektor data center mulai 20 September, yang mewajibkan audit energi setidaknya sekali setiap lima tahun serta keterbukaan informasi teknis.
Meski demikian, operator tidak diwajibkan untuk menerapkan langkah-langkah yang ditemukan dalam audit tersebut, dan pemerintah pun belum menetapkan batas seberapa efisien data center harus menggunakan listrik.
Lai menjelaskan, langkah efisiensi saja belum cukup untuk menunjukkan apakah fasilitas-fasilitas tersebut justru mengonsumsi lebih banyak sumber daya seiring ekspansi yang terus berlangsung.
Suhu yang terus meningkat
Kenaikan suhu di Hong Kong turut memperberat tantangan pendinginan. Menurut Hong Kong Observatory, suhu kota ini naik 0,35°C per dekade sejak 1996 hingga 2025—lebih dari dua kali lipat tingkat kenaikan yang tercatat pada periode yang lebih panjang, yakni 1885 hingga 2025.
Paruh pertama tahun ini juga tercatat lebih hangat dari biasanya, dengan suhu rata-rata terendah mencapai 21,5°C—tertinggi yang pernah tercatat untuk periode tersebut—dan suhu rata-rata tertinggi mencapai 26°C, tertinggi kedua yang pernah tercatat.
Menurut Chris Howard, Head of Account Management for Data Centres di Jones Lang LaSalle Ltd. (JLL) untuk kawasan Asia-Pasifik, sistem pendinginan udara konvensional kini semakin kurang memadai untuk sistem AI, yang dapat mengonsumsi listrik hingga delapan kali lebih besar per rak server dibandingkan peralatan generasi sebelumnya.
Howard menjelaskan dalam email, para operator kini beralih ke sistem pendinginan berbasis cairan (liquid cooling), yang mampu menyerap panas lebih dekat ke prosesor. Ia menambahkan, sistem cadangan (backup) juga diperlukan, karena suhu dapat naik dengan cepat apabila aliran cairan pendingin terhenti.
Ia menambahkan, sistem AI juga berpotensi membutuhkan lebih banyak ruang lantai untuk baterai, peralatan listrik, dan transformator, mengingat kebutuhan dayanya yang lebih besar.
Shipeng Yan, assistant professor of management and strategy di The University of Hong Kong, menjelaskan bahwa konsentrasi beberapa fasilitas data center dalam satu area berpotensi menambah beban panas di lingkungan sekitarnya.
Pemerintah telah memulai pembangunan Sandy Ridge Data Facility Cluster di kawasan Northern Metropolis pada Maret lalu. Berdasarkan estimasi The Green Earth Ltd. pada Maret, klaster ini diperkirakan dapat mengonsumsi listrik hingga sekitar 1,75 miliar kilowatt-jam (kWh) per tahun.
“Desain data center juga perlu mempertimbangkan risiko iklim fisik,” ujar Yan dalam jawaban tertulis melalui email.
Respons dari sisi kelistrikan
Sejumlah perusahaan sudah mulai bersiap menghadapi lonjakan kebutuhan daya dan pendinginan ini.
Untuk proyek Sandy Ridge, CLP Power Hong Kong Ltd. (CLP Power) telah membentuk satuan tugas (task force) khusus untuk merencanakan dan menyediakan infrastruktur listrik yang dibutuhkan klaster tersebut, sembari bekerja sama dengan operator data center terkait kebutuhan daya yang mereka perkirakan.
Data center saat ini sudah menyumbang lebih dari 7% dari total penjualan listrik CLP Power, dengan penjualan ke sektor ini naik 11,8% secara tahunan pada paruh pertama tahun ini.
Ka Wing Tang, director di Equinix Hong Kong Ltd., mengatakan pusat data HK6 miliknya secara otomatis menyesuaikan sistem pendinginan berdasarkan suhu dan kebutuhan komputasi.
Tang menjelaskan dalam jawaban tertulis melalui email, HK6 juga memisahkan udara panas hasil buangan dari udara yang telah didinginkan, serta mendukung sistem liquid cooling langsung ke chip (direct-to-chip) untuk penerapan AI berdensitas tinggi.
Menurut Tsang Hon-ki, Dean of the Faculty of Engineering di The Chinese University of Hong Kong, sistem pendinginan yang lebih efisien belum tentu dapat mengimbangi kenaikan konsumsi listrik akibat perangkat AI.
“Pertimbangan lain yang perlu diperhatikan adalah jejak karbon (carbon footprint), sebagai cara untuk mengukur dampak lingkungan dari data center,” ujarnya melalui email.
Edwin Lau, pendiri The Green Earth, mengungkapkan bahwa konsumsi listrik data center naik 75,5% dari 2018 hingga 2023, sementara emisi karbon yang terkait meningkat 35,6% menjadi 922.000 ton.
Lau menyarankan agar operator mengungkapkan secara transparan total konsumsi listrik dan air, emisi, serta tingkat efisiensi aktual mereka, untuk menunjukkan apakah capaian efisiensi benar-benar mengimbangi laju ekspansi.
“Data yang transparan juga akan membuka akses ke pembiayaan hijau (green finance) untuk keperluan retrofit, sekaligus memungkinkan pelanggan korporat memilih fasilitas dengan performa yang lebih baik,” tambahnya.