, Philippines
264 views

Mengapa EDC Filipina tidak akan mengembangkan batu bara

Dampak buruk dari perubahan iklim membuat perusahaan hanya mengembangkan Energi Baru Terbarukan (EBT).

Sementara Energy Development Corporation (EDC) yang berbasis di Filipina terus memperluas portofolionya, mereka bertekad hanya akan berpegang pada energi baru terbarukan (EBT) dan tidak akan mengembangkan batu bara karena satu alasan utama, yaitu  perubahan iklim.

Vice President dan Head of Strategy and Planning for Power Businesss First Gen Corporation Jay Joel L. Soriano mengungkapkan tentang topan Yolanda, atau secara internasional dikenal dengan nama badai Haiyan, di 2013 yang menghancurkan fasilitas dan melukai karyawan mereka. EDC adalah cabang First Gen yang 100% diisi dengan energi terbarukan.

“Kami mengalami secara langsung apa yang dapat disebabkan oleh bencana alam dan juga membuka mata kami tentang bahaya yang dapat ditimbulkan oleh perubahan iklim bagi generasi mendatang,” katanya kepada Asian Power.

Selain risiko iklim, Soriano juga mengakui dampak invasi Rusia ke Ukraina sebagai alasan lain mengapa negara tersebut harus mempercepat penerapan energi terbarukan untuk melindungi konsumen dari guncangan inflasi.

Apa portofolio Energy Development Corporation?

“Kami menghasilkan listrik murni dari energi baru terbarukan karena itu sudah menjadi DNA kami. Ketika kami mulai pada 1970-an, yang kami lakukan  adalah untuk mengembangkan energi panas bumi. Sejak awal, kami adalah perusahaan yang memperhatikan energi bersih dan fokus pada perlindungan dan pemeliharaan lingkungan.

Kami memiliki sekitar 1.200 megawatt (MW) energi panas bumi di seluruh negeri. Kami memiliki fasilitas di Bicol, Leyte, Negros Oriental, dan Cotabato. Kami juga telah menambahkan teknologi lain seperti 150 MW tenaga angin di Ilocos Norte, fasilitas hidro 132 MW kami di Nueva Ecija, dan sekitar 11 MW solar split antara on-grid dan rooftop. Secara keseluruhan, kami menyumbang 42% dari total listrik yang dihasilkan negara dari EBT

Alasan lain mengapa kami memprioritaskan investasi di EBT  adalah karena ini menjadi sangat pribadi bagi kami. Jika Anda melihat pengalaman kami, khususnya tentang dampak peristiwa bencana topan Yolanda pada 2013, yang mungkin menjadi angin topan super terburuk yang pernah melewati negara kita. Ketika melewati Leyte, fasilitas kami hancur. Karyawan kami dan keluarga mereka terluka. Komunitas kami hancur. Kami mengalami secara langsung apa yang dapat disebabkan oleh bencana alam dan juga membuka mata kami tentang bahaya apa yang dapat ditimbulkan oleh perubahan iklim bagi generasi mendatang. Pada  2015, Chairman kami Federico R. Lopez berkomitmen bahwa kami tidak akan pernah menggunakan batu bara untuk menjadi bagian tindakan kami dalam lingkungan dan dalam transisi energi bersih.”

Mengapa ada kebutuhan untuk mempercepat peralihan ke energi yang lebih bersih, bahkan untuk negara kecil seperti Filipina?

“Kami sangat kecil sehingga kami hampir tidak berkontribusi pada emisi gas rumah kaca. Masih ada dua alasan mengapa penting untuk mempercepat transisi. Pertama adalah risiko iklim. Jika Anda melihat indeks risiko iklim yang dikeluarkan oleh Organisasi Pengawas Jerman atau German Watch Organization, Filipina menempati urutan keempat dalam hal yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Jika Anda melihat perkiraan tertentu, mereka mengatakan bahwa kerusakan yang disebabkan setiap tahun oleh bencana alam bisa menghabiskan dana sekitar sekitar 3.5m peso Filipina. Ada pengalaman luar biasa yang kami alami, sehingga hal ini dapat dikatakan bahwa kami perlu membantu diri kita sendiri. Terlepas dari seberapa kecil emisi gas rumah kaca kami, setidaknya kami harus dapat dipercaya, bahwa kami membantu diri sendiri untuk melawan perubahan iklim, dan mengambil  bagian  dalam melindungi lingkungan.

Alasan kedua cukup bisa diamati. Kami merasakan sakitnya sekarang. Jika Anda pernah pergi untuk isi ulang gas, Anda akan melihat bahwa harga gas dua kali lipat. Perang Rusia-Ukraina tidak hanya mempengaruhi harga gas, tetapi juga harga listrik dan komoditas. Salah satu hal hebat tentang energi terbarukan adalah kita tidak terkena semua guncangan ini dan kita dapat memiliki kendali yang lebih besar atas harga listrik kita. Itu benar-benar salah satu manfaat di mana jika kita dapat bergerak lebih cepat dari batu bara dan beralih ke energi terbarukan, setidaknya kita dapat memiliki prediktabilitas dan pengendalian harga listrik yang lebih besar.”

Meskipun memiliki opsi, apakah pasokan EBT yang dikembangkan cukup untuk memenuhi seluruh permintaan listrik Filipina?

“Mencapai 100% EBT seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Jika Anda melihat data terbaru Departemen Energi, kami memiliki 22% energi terbarukan dalam hal bauran pembangkitan kami. Jika Anda hanya melihat trajectory kami hingga 2030, yang mencakup pembangkit saat ini termasuk komitmen dan  rencananya, itu tidak akan banyak bergerak dari angka 22%. Angka yang menggembirakan adalah angka yang ada  saat ini ditambah komitmen dan rencana, di mana kita melihat sekitar 37% dalam hal pembangkit campuran. Ini tidak menjamin, tetapi perusahaan sudah mencari cara untuk membuat rencana ini terjadi. Itu sejalan dengan komitmen negara kita untuk mencapai 35%. Dari perspektif perusahaan pembangkit, ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Ada banyak dukungan dan bantuan yang kami butuhkan dari para pemain lain di industri ini mulai dari pemain transmisi dan distribusi hingga rumah tangga.”

Bagaimana mereka dapat membantu target campuran EBT pemerintah?

“Pekerjaan yang telah dilakukan oleh mantan Menteri Energi Alfonso Cusi selama beberapa tahun terakhir, saya akan menggolongkannya sebagai upaya yang benar-benar mengoperasionalkan atau menegakkan banyak undang-undang serta kerangka kerja yang sudah ada. Kami telah melihat Retail Competition and Open Access (RCOA), yang memungkinkan konsumen  bersaing untuk membuat kontrak langsung dengan perusahaan pembangkit, mulai mendapatkan daya tarik. Kami telah melihat program Green Energy Options diluncurkan. Program The Green Energy Auction juga diadakan di mana kami melelang 2.000 megawatt pertama kami.

Karena ada undang-undang, kerangka kerja, dan dukungan pemerintah, para pemain perlu mengambil bagian dalam mendukung banyak kerangka kerja ini dalam peraturan sehingga seluruh ekosistem di sekitar transisi ke energi yang lebih bersih terjadi. Perusahaan harus mengambil keuntungan untuk menggunakan undang-undang ini dalam membantu mendorong penetrasi energi terbarukan yang lebih besar. Bagi yang masih berinvestasi di batu bara, harus ada upaya untuk melakukan divestasi PLTU batu bara ini.”

Filipina baru-baru ini menyambut pemerintahan baru. Apa yang harus dilakukan pemerintah baru ini dalam hal kebijakan dan implementasi untuk membantu para pelaku EBT?

“Akan membantu jika mereka melanjutkan pekerjaan yang sudah dilakukan. Jika semua kebijakan ini telah dimulai atau terus didukung oleh pemerintahan berikutnya, saya pikir kita menuju ke arah yang benar.

Jika Anda melihat negara lain, ada banyak upaya untuk memastikan pilihan. RCOA melakukan itu. Program Green Energy Options melakukan itu. Ambang batas harus diturunkan hingga sampai ke tingkat rumah tangga. Pilihan konsumen memungkinkan rumah tangga dan orang-orang yang benar-benar percaya pada transisi energi bersih yang jelas ini untuk menempatkan uang mereka di tempat yang tepat untuk benar-benar mendukung transisi energi bersih. Saat ini, jika Anda ingin panas bumi memenuhi kebutuhan Anda, Anda belum sampai pada titik di mana Anda bisa melakukannya.

Program The Green Energy Auctions atau GEAP adalah hal lain yang baru saja diambil. Jika saya mengingat angkanya dengan benar, energi solar tengah kelebihan permintaan. Belum ada GEAP untuk panas bumi dan hidro. Jika mekanisme itu juga terjadi untuk panas bumi dan hidro, itu adalah cara lain di mana pemerintah dan mekanisme pendukung dapat membantu investasi lebih lanjut ke dalam teknologi yang sangat penting dalam EBT.”

Apa keuntungan dari memproduksi energi terbarukan untuk Filipina?

“Hal hebat tentang energi terbarukan adalah kami memiliki kontrol yang lebih baik terhadap pasokan bahan bakar, yang kemudian memberi kami prediktabilitas dan harga yang jauh lebih baik. Semua teknologi yang tersedia bagi kita—solar, angin, hidro, dan panas bumi—sangat spesifik dalam hal lokasi. Kami sangat diberkati di Filipina karena sumber daya alam kami dapat mendukung teknologi ini.

Saya akan fokus khususnya pada panas bumi, di mana kami sangat kuat. Panas bumi bukanlah sesuatu yang dapat Anda temukan di tempat lain di dunia. Ini khusus untuk di Cincin Api Pasifik atau Pacific Ring of Fire, tempat-tempat seperti Indonesia, Filipina, dan Hawaii. Kami diberkati untuk memiliki akses ke sumber daya alam yang dapat memasok energi kami. Daripada mengekspos diri kita pada impor yang lebih besar dan guncangan yang lebih besar terhadap harga komoditas secara eksternal, saya pikir jauh lebih baik bagi kita untuk mengembangkan apa yang kita miliki di dalam negeri. Itu memberi kita lebih banyak keamanan energi, dan lebih banyak prediktabilitas atas harga energi kita.

Hal lain juga adalah bahwa energi terbarukan cenderung menuju ke tempat yang sumber dayanya melimpah. Setidaknya dari pengalaman kami di panas bumi, kami biasanya menemukan mereka tidak di kawasan kota. Kami menemukannya di pegunungan, di daerah pedesaan, di provinsi. Saat kami mulai mengembangkan pembangkit listrik di daerah-daerah terpencil di negara ini, kami menciptakan lapangan kerja, kami menciptakan mata pencaharian bagi komunitas masyarakat yang lebih kecil yang jika tidak, mungkin mereka kesulitan mendapatkan  pekerjaan yang bisa memenuhi mata pencaharian. Mereka harus pergi ke kota, ke Metro Manila. Tapi sekarang alih-alih mereka pergi ke Metro Manila, kami bisa datang ke mereka. Hal itu sangat membantu dari perspektif komunitas.”

Pengembangan panas bumi merupakan mandat awal EDC. Bagaimana potensi panas bumi di Filipina dalam tiga sampai lima tahun ke depan?

“Pemerintah memperkirakan sekitar 5.000 megawatt (MW) bisa dikembangkan. Tetapi panas bumi membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk berkembang dibandingkan dengan matahari dan angin. Dalam hal panas bumi, kita benar-benar menggali jauh ke dalam permukaan bumi. Jadi ada banyak studi di balik itu. Ada banyak pekerjaan untuk memastikan bahwa saat kami melakukan eksplorasi panas bumi, kami tetap menjadi pengembang yang bertanggung jawab, kami melindungi lingkungan, dan kami melindungi ekosistem tempat kami berada.

Karena itu, kami cukup bangga bahwa kami baru saja meresmikan pabrik 3MW kami di Cotabato tepat di samping fasilitas kami yang ada di Gunung Apo. Kami memiliki proyek lain yang mungkin akan menambah sekitar 30MW hingga 50MW lebih banyak selama beberapa tahun ke depan. Kami terus mencari situs lain di mana kami dapat terus mengeksplorasi dan membangun lebih banyak fasilitas panas bumi.”

Bagaimana Anda membayangkan lanskap energi Filipina 10 tahun dari sekarang?

“Saya harap dapat mencapai bauran energi terbarukan 35% yang kita semua cita-citakan, setidaknya semua pemain di industri mulai bekerja. Saya juga berharap percakapan tidak hanya terjadi di sisi penawaran di mana semua orang mulai membangun EBT, tetapi juga dari sisi permintaan, di mana orang-orang menghargai bahwa kami memiliki EBT di Filipina, kami memiliki sumber daya alam yang dapat mendukung energi terbarukan, dan bahwa semua bekerja untuk menggunakan dan mendukung energi terbarukan. Jika kita sampai pada titik di mana EBT memainkan peran yang lebih besar dan lebih penting dalam konsumsi energi, saya pikir itu akan menjadi titik akhir yang bagus pada  2030.”

Follow the link for more news on

ACWA dan PT PLN teken MoU baterai untuk pengembangan hidrogen hijau di Indonesia

Ini juga mencakup proyek penyimpanan pompa untuk fasilitas pembangkit listrik tenaga air.

Unit RATCH Group membeli saham Eco Energy untuk ikut mengembangkan proyek pembangkit listrik tenaga air di Indonesia

RH Internationa (Singapura) sekarang akan memegang 50% saham dalam proyek tersebut.

Rencana transisi energi Indonesia menghadapi rintangan implementasi

Indonesia dan mitra internasionalnya sepakat untuk memobilisasi pembiayaan sebesar US$20 miliar.

PLN Indonesia menandatangani perjanjian dengan Amazon untuk proyek tenaga surya 210MW

Amazon berkomitmen untuk melakukan off-take daya dari empat proyek tenaga surya.

Indonesia mendapatkan $20 miliar di bawah Just Energy Transition Partnership

Rencana Indonesia termasuk memuncaknya total emisi sektor listrik pada 2030.

Apa yang bisa mengeringkan potensi tenaga air Laos

Pasar Laos siap untuk menjadi pengekspor listrik utama di Asia Tenggara.

Pertamina mendukung target net-zero Indonesia 2060

Indonesia menaikkan target pengurangan emisi karbon menjadi 31,89% pada 2030.

Laba bersih Adaro Energy melonjak 366% YoY dalam sembilan bulan pertama

Hal ini didukung oleh kenaikan harga jual rata-rata.

Laporan IRENA: Biaya energi terbarukan saat ini semakin efektif bagi Indonesia

Penghematan biaya energi diperkirakan bernilai US$400 miliar-600 miliar hingga 2050.