, India
197 views

PERHATIAN REGULASI: Bea masuk baru untuk peralatan tenaga surya mengancam tujuan RE India

Pemerintah akan memperkenalkan tingkat 25% pada sel surya dan 40% pada modul surya pada bulan April.

Pengejaran India untuk memenuhi 450-gigawatt (GW) target energi terbarukan yang penuh ambisi pada tahun 2030, beresiko melambat dengan adanya pengambilan langkah baru yang akan memungut bea masuk pada peralatan surya dengan tarif hingga 40%, begitulah pendapat dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) Energy Economist Lead India Vibhuti Garg. Dia bahkan memberi peringatan bahwa ini bisa lebih merugikan daripada membantu.

Mulai 1 April 2022, tarif bea masuk dasar (BCD) 25% akan dikenakan pada sel photovoltaics surya (PV) dan 40% pada modul surya. Meskipun tingkat ini dimaksudkan sebagai stimulus untuk manufaktur dalam negeri, Garg mengatakan produsen mungkin tidak dapat memenuhi permintaan untuk pertumbuhan energi terbarukan di India.

“Pengenaan BCD akan meningkatkan biaya dan dengan demikian tarif dari proyek energi terbarukan. Developer energi terbarukan akan makin sulit menemukan off-taker untuk daya yang begitu mahal,” kata Garg kepada Asian Power dalam sebuah wawancara eksklusif.

Dia menambahkan bahwa resistensi besar diperkirakan turun karena perusahaan distribusi listrik yang sudah dibebani dengan kesehatan keuangan yang buruk pun tengah menghadapi kesulitan dalam meneruskan tarif kepada konsumen akhir.

Produsen lokal yang tidak siap

Target India, menurut IEFA, akan membutuhkan antara 35GW hingga 40GW instalasi tahunan energi terbarukan. Sementara itu, Central Electricity Authority mencatat dalam laporan Optimum Energy Mix miliknya, bahwa negara tersebut akan membutuhkan tambahan 25GW kapasitas energi surya setiap tahun hingga 2030 agar dapat memenuhi targetnya.

Hal ini menimbulkan tantangan mengingat produsen India hanya memproduksi sekitar 18GW modul surya dan 4.3GW sel surya. Garg mengatakan negara tersebut dapat kehilangan targetnya karena produksi aktual peralatan surya pada waktu tertentu “secara signifikan lebih rendah” karena sebagian besar fasilitas manufaktur tenaga surya di India beroperasi pada faktor pemanfaatan kapasitas kurang dari 50%.

Negara ini juga sangat bergantung pada peralatan surya impor. Dalam sebuah laporan, Fitch mencatat bahwa pada tahun 2021, India mengimpor lebih dari 80% sel surya, yang berjumlah 604 juta unit.

Untuk mengatasi ini, BCD pada sel dan modul PV surya bermaksud untuk disrupsi rantai pasokan, serta penundaan proyek, menurut Fitch Solutions. Ministry of New and Renewable Energy (MNRE) mengatakan bahwa BCD berfungsi sebagai tugas perlindungan setelah penambahan kapasitas tenaga surya negara dipengaruhi oleh keterbatasan dalam perdagangan modul dan sel surya.

MNRE juga berencana untuk mengubah India dari importir peralatan surya menjadi eksportir, memberikan jalan alternatif bagi negara-negara lain untuk kebutuhan tenaga surya mereka.

Sementara ini masalahnya, Fitch Solutions berbagi pandangan bahwa pasar domestik India “mungkin tidak siap untuk dorongan agresif yang seperti itu.”

“Selanjutnya, ketika pajak bea masuk tumbuh lebih tinggi dan kebijakan impor peralatan surya tumbuh lebih ketat, produsen dalam negeri perlu mempercepat kuantitas manufaktur dan kualitas produk mereka,” begitu bunyi laporan itu.

Fitch memperkirakan bahwa dalam jangka pendek, India dapat menemui rata-rata sebesar 11% pertumbuhan tahunan dalam kapasitas tenaga surya menjadi 140GW pada tahun 2031 dari yang awalnya 59GW pada tahun 2022; tetapi ketidakmampuan produsen dalam negeri untuk memenuhi permintaan dapat mengekspos proyeksi ini terhadap risiko penurunan — ketidakcocokan penawaran dan permintaan.

Meskipun demikian, Fitch mengharapkan industri manufaktur untuk mengatasi risiko ini karena perusahaan swasta, seperti Reliance Industries, berinvestasi di sektor manufaktur terbarukan India. Hal ini juga di atas langkah MNRE untuk mengatur proses jaminan kualitas untuk pembuatan surya untuk menjaga kualitas panel surya dalam standar dari International Electrotechnical Commission.

Dalam persoalan ini, Fitch berpendapat bahwa India masih berada dalam lintasan untuk pertumbuhan pembangkit tenaga surya yang kuat, mencapai 221 terawatt-jam (TWh) pada 2031 dari 93TWh pada 2022.

Penangguhan mungkin dilakukan secara berurutan

Terlepas dari kepeduliannya terhadap kapasitas produsen dalam negeri untuk memenuhi permintaan peralatan surya, Fitch tidak lagi mengharapkan pemerintah India untuk menunda efektivitas BCD baru. Tetapi Garg IEFA memberikan posisi berikut dalam opininya “pemerintah perlu menunda keputusannya untuk memaksakan BCD,” Tunduk pada langkah-langkah yang akan melindungi kepentingan developer domestik yang dapat kehilangan keuntungan biaya terhadap mitra impor mereka.

“Teknologi impor lebih efisien. Jadi pemerintah harus menyediakan filip untuk manufaktur domestik dengan skema.”

Kebijakan ini mungkin dalam bentuk dukungan langsung untuk manufaktur dalam negeri, seperti skema insentif terkait produksi, akses ke keuangan dengan tingkat yang lebih rendah, atau dukungan untuk penelitian dan pengembangan.

“Hal ini akan memberikan perangsang bagi manufaktur dalam negeri dan membantu pemerintah mencapai tujuannya atas India yang dapat mempertahankan dirinya sendiri dan pada saat yang sama dapat memastikan pencapaian target energi terbarukan,” katanya.

“Manufaktur domestik India tertinggal dari teknologi, sehingga pemerintah harus membuat kebijakan yang kondusif untuk inovasi teknologi dan ketersediaan keuangan. Pengenaan BCD tidak akan menyelesaikan tujuan apa pun.”

 

Follow the link for more news on

PERHATIAN REGULASI: Bea masuk baru untuk peralatan tenaga surya mengancam tujuan RE India

Pemerintah akan memperkenalkan tingkat 25% pada sel surya dan 40% pada modul surya pada bulan April.

Faktor daratan yang terbatas dan kedekatan dengan equator menjadi bagian dari kendala penyebaran EBT

Senior Advisor Pinsent Masons John Yeap mencatat bahwa kemajuan teknologi dan regulasi yang fokus akan memberikan ruang untuk pemanfaatan energi terbarukan (EBT) meskipun ia melihat masih ada kendala.

Apa yang terjadi pada CLP Power saat Hong Kong beralih ke netralitas karbon

Sejak 2020, CLP Power telah meningkatkan proporsi pembangkit listrik berbahan bakar gas menjadi sekitar 50% untuk menggantikan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara.

Perusahaan swasta melampaui pertumbuhan industri tenaga surya di Filipina

Solar Philippines menandai kurangnya pandangan bisnis kedepan untuk memenuhi permintaan yang tinggi.

ACEN, Puri Usaha Group bentuk JV untuk proyek EBT di Indonesia

Platform Surgayen berniat menggarap proyek lintas negara antara Indonesia dan Singapura.

Masdar memperoleh pijakan di Asia Tenggara melalui proyek surya Indonesia

Perusahaan akan meluncurkan pembangkit listrik tenaga surya terapung terbesar di Indonesia tahun ini.

Solar Philippines menandatangani kesepakatan pembangkit listrik tenaga surya 50MW di Indonesia

Proyek ini direncanakan menjadi proyek tenaga surya terbesar yang dipasang di negara tersebut.

Pertamina Indonesia mempercepat peralihan energi bersih

Perusahaan akan memprioritaskan pengembangan energi baru dan terbarukan.

Akankah 30 tahun cukup untuk mencapai netralitas karbon?

Negara-negara juga membutuhkan waktu untuk mendekarbonisasi aset lama, klaim Black & Veatch.

Tiga alasan mengapa agrivoltaics bisa menjadi sektor energi terbarukan utama di India

Geografi adalah faktor utama mengapa negara ini paling baik mengadopsi agrivoltaik, kata IEEFA.