Solar terdesentralisasi tekan biaya jaringan di pedesaan Asia Tenggara
GoRental hadirkan solar terdesentralisasi dengan biaya jauh lebih murah dari jaringan listrik
Microgrid surya terdesentralisasi kini menggantikan perluasan jaringan listrik di pedesaan Asia Tenggara, seiring tingginya biaya infrastruktur dan bahan bakar yang membuat jaringan listrik konvensional menjadi tidak ekonomis lagi.
"Di Thailand Utara, microgrid surya terdesentralisasi muncul sebagai alternatif utama, dengan biaya hanya 10% dari biaya perluasan jaringan listrik konvensional," ujar Colin Peh, Founder dan CEO GoRental Global Pte. Ltd., kepada Asian Power.
"Untuk satu desa dengan 31 rumah, peralihan ini menghasilkan penghematan total hampir US$250.000 dari proyeksi tagihan listrik dan biaya bahan bakar yang berhasil dihindari," ujarnya melalui Zoom.
Sistem modular milik perusahaan ini menghilangkan kebutuhan transmisi jarak jauh, karena listrik dihasilkan dan disimpan secara lokal. Menurut Peh, sistem terdesentralisasi ini mampu menghasilkan listrik dengan biaya sekitar US$0,03 per kilowatt-jam selama 10 tahun, dibandingkan tarif yang bisa mencapai US$0,30 per kilowatt-jam di sejumlah wilayah.
Kelangkaan bahan bakar turut memperkuat tren peralihan ini. Peh mengatakan sejumlah wilayah di Filipina dan Thailand menghadapi keterbatasan pasokan yang membatasi penggunaan generator.
"Saat ini, mereka bahkan tidak mampu membeli bahan bakar untuk menjalankan generator," ujarnya, seraya menambahkan bahwa sistem solar-plus-baterai kini menjadi kebutuhan penting di sejumlah komunitas.
Sistem ini menggunakan baterai lithium iron phosphate dengan masa pakai 15 hingga 18 tahun dan siklus pengisian sekitar 6.000 kali, serta tingkat degradasi tahunan yang rendah.
"Penerapan saat ini mampu menyediakan 1,2 hingga 1,5 kilowatt per rumah tangga, dengan tingkat pemanfaatan yang hampir konstan di kisaran 80% hingga 100%," kata Peh.
Sejumlah tantangan tetap ada. Thailand menerapkan pajak sebesar 25% untuk produk baterai, sementara pengiriman peralatan ke daerah terpencil bisa memakan waktu berjam-jam melalui medan yang sulit dilalui.
Peh menegaskan, sistem ini dirancang untuk tahan banting. "Kami telah menerapkan sistem tahan air berstandar IP54 dan IP55 di zona-zona bencana yang berat, seperti Kamboja dan Jepang."
Minat terhadap teknologi ini juga meluas di luar penggunaan pedesaan. Klien komersial seperti pusat data dan operator acara mulai menjajaki sistem terdesentralisasi, sementara sejumlah rumah tangga perkotaan mulai mengadopsi unit berskala lebih kecil.
"Bahkan konsumen rumah tangga membeli sistem dari kami untuk dipasang di balkon mereka. Biayanya hanya sekitar US$2.000, dan sudah bisa menghidupkan laptop, komputer, hingga kulkas," pungkasnya.