PLN perluas jaringan gas dan LNG guna dukung peningkatan energi terbarukan
Gas menjadi kekuatan penstabil yang memungkinkan jaringan listrik menyerap lebih banyak output yang bersifat variabel.
Infrastruktur gas dan liquefied natural gas (LNG) tengah diperluas seiring dengan peningkatan energi terbarukan di Indonesia, karena jaringan listrik semakin bergantung pada pasokan daya yang cepat dan fleksibel guna mendukung pasokan yang bersifat intermiten, menurut perusahaan utilitas milik negara PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN.
"PLN semakin mempertajam fokusnya pada gasifikasi sebagai pilar struktural dari transisi energi, memposisikan gas dan LNG sebagai penopang esensial bagi jaringan listrik yang didominasi energi terbarukan," ujar Evy Haryadi, Direktur Teknologi, Teknik, dan Keberlanjutan PLN, kepada Asian Power. Ia menggambarkan pendekatan ini sebagai twin-track: mempercepat energi terbarukan sekaligus membangun dukungan gas yang memadai untuk menjaga stabilitas sistem.
Evy mengatakan gasifikasi merupakan elemen yang krusial bagi sistem, bukan sekadar solusi sementara. Seiring meningkatnya porsi tenaga surya dan angin, katanya, fleksibilitas menjadi faktor pembatas, dan gas menyediakan kekuatan penstabil yang memungkinkan jaringan menyerap output yang lebih variabel.
Data PLN menunjukkan pembangkit berbahan bakar gas menghasilkan 25 terawatt-jam listrik dalam sembilan bulan pertama, yang menegaskan perannya dalam meredam fluktuasi pasokan.
Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 milik Indonesia, 76% dari penambahan kapasitas akan berasal dari energi terbarukan. Namun, PLN memperingatkan bahwa kemajuan ini akan terhambat tanpa dukungan gas yang kokoh.
"Ambisi energi terbarukan kami membutuhkan fondasi yang andal," kata Evy. "Gas adalah fondasi tersebut, hingga penyimpanan energi berskala besar tersedia secara luas dan ekonomis."
Menurunnya pasokan gas pipa domestik juga turut membentuk strategi PLN, mendorong perusahaan utilitas ini untuk semakin bergantung pada LNG guna menjaga kecukupan sistem.
Melalui unit bahan bakarnya, PLN Energi Primer Indonesia (EPI), perusahaan utilitas ini tengah mengembangkan ekosistem LNG nasional yang dibangun di sekitar unit penyimpanan dan regasifikasi terapung (floating storage and regasification units), pipa, kapal pengangkut CNG, serta terminal penerima.
Infrastruktur yang sudah ada saat ini mencakup 700.000 meter kubik kapasitas penyimpanan LNG dan kapasitas regasifikasi sebesar 1,3 miliar kaki kubik per hari.
Evy menyoroti mobilitas LNG, yang memungkinkan PLN melayani pulau-pulau terluar yang tidak memiliki fasilitas darat berskala besar. Struktur kepulauan Indonesia, katanya, menuntut solusi energi yang portabel; LNG membantu PLN mengalihkan jaringan berbahan bakar diesel ke gas serta menjalankan microgrid berbasis gas.
Selain memperluas infrastruktur gas, PLN juga tengah memodernisasi jaringannya guna mengakomodasi penetrasi energi terbarukan yang lebih dalam. Perusahaan utilitas ini memperkenalkan wide-area monitoring, kendali otomatis, analitik prediktif, dan sistem baterai untuk menekan risiko variabilitas.
Meski demikian, PLN menegaskan gas akan tetap menjadi tulang punggung operasional selama masa transisi.
"Energi terbarukan akan memimpin bauran energi kita di masa depan, namun jaringan listrik yang stabil tetap membutuhkan daya yang dapat diatur (dispatchable power)," kata Evy. "Gas memberikan kami tingkat keterkendalian yang belum mampu disediakan oleh tenaga surya dan angin dalam skala besar."
Gasifikasi juga turut berkontribusi pada penurunan emisi. PLN mencatat pengurangan emisi CO₂ kumulatif sebesar 43,7 juta ton dari 2022 hingga 2025, didukung oleh peralihan dari diesel ke gas di wilayah-wilayah prioritas.
Evy mengatakan gasifikasi merupakan cara praktis untuk memangkas emisi saat ini, sekaligus mempersiapkan sistem untuk menampung porsi energi terbarukan yang lebih besar.
Seiring PLN mengembangkan Green Enabling Super Grid-nya—yang dirancang untuk menyalurkan volume besar energi terbarukan melintasi koridor sepanjang hingga 1.846 kilometer—perusahaan utilitas ini memandang gas sebagai elemen esensial untuk menyeimbangkan aliran listrik antar-pulau yang berjauhan.
"Gasifikasi bukanlah jalan memutar—ia adalah jembatan," kata Evy. "Tanpanya, Indonesia tidak akan mampu melangkah menuju masa depan dengan porsi energi terbarukan yang tinggi, dengan kecepatan yang kita butuhkan."