, Thailand
187 views

Bagaimana Thailand bertahan dalam usahanya mencari nol-bersih?

Thailand telah memasang kapasitas energi terbarukan lebih dari 15 GW.

Komitmen yang meningkat terhadap energi terbarukan membuat Thailand menjadi kisah untuk berkelanjutan yang sukses di Asia Tenggara - tetapi tidak selalu seperti ini. Kudun and Partners menganalisis bagaimana nasib Thailand selama beberapa tahun terakhir. Mereka mencatat bahwa pada 2010, 90% pasokan listrik Thailand berasal dari batubara dan gas alam. Sebaliknya, hanya 2% yang berasal dari sumber terbarukan.

Menurut laporan analisis oleh Kudun and Partners Ltd., pemerintah Thailand memperkenalkan serangkaian inisiatif mulai 2007, yang bertujuan untuk meningkatkan produksi energi terbarukan. Insentif ditangani oleh Electricity Generating Authority of Thailand (EGAT), yang berkomitmen untuk membeli energi terbarukan dari produsen kecil di negara tersebut.

Selanjutnya, analisis menunjukkan bahwa pada tahun 2014, ada alasan lain untuk bergerak menuju energi terbarukan di Thailand. Produksi gas alam mulai menurun pada tahun itu dikarenakan kurangnya pasokan, memaksa Thailand untuk memikirkan kembali sejumlah besar bauran energinya. Negara ini dapat menebus kekurangan tersebut, baik dengan mengimpor pengganti atau dengan meningkatkan investasinya dalam energi terbarukan yang diproduksi di dalam negeri.

Sekitar waktu yang sama ketika cadangan gas alam Thailand mulai terbukti tidak memenuhi kebutuhan energi negara itu, Board of Investment menerbitkan dokumen yang berwawasan luas yang menunjukkan jalan ke depan dalam masalah ini. Dokumen tersebut mencatat bahwa fitur alami dan geografis Thailand yang luar biasa menguntungkan menyediakan sarana yang sangat baik untuk produksi energi terbarukan dalam hal “energi matahari, angin, tenaga air, bio-energi (biomassa, bio-gas, MSW), biofuel (etanol, biodiesel, baru bahan bakar diesel alternatif), dan sumber energi baru (pasang surut, panas bumi).”

Laporan analisis Kudun and Partners mencatat bahwa fokus utama dari rencana ini adalah pada matahari dan bio-energi karena kesesuaian dan kemudahan produksi untuk sumber-sumber energi ini di Thailand. Lokasi tropis negara ini menjadikannya sebagai tempat yang ideal untuk pengembangan energi matahari, karena negara ini menerima sejumlah besar radiasi matahari sepanjang tahun. Adapun bio-energi, ekonomi Thailand sangat didasarkan pada pertanian, yang mengarah pada produksi sejumlah besar limbah pertanian dan kota yang dapat dikonversi menjadi energi yang dapat digunakan.

Dengan ini, pendekatan gabungan untuk pembangkit listrik juga terbukti berhasil. Kudun and Partners mewakili B. Grimm Power Public Company Limited dan Energy China Engineering Group Shanxi Electric Power Engineering Co., Ltd. Konsorsium dalam pengembangan berkelanjutan mereka dari proyek pembangkit listrik tenaga hibrida  gabungan dari surya terapung dan hidro terbesar di dunia dengan kapasitas 45 megawatt yang terletak di Bendungan Sirindhorn dan dibuat dengan kerja sama dari EGAT, proyek ini bernilai lebih dari THB842m (sekitar US$27 juta).

Langkah Thailand menuju kemandirian energi yang bersifat berkelanjutan datang pada saat situasinya genting. Laporan analisis menyatakan bahwa permintaan listrik di kawasan Asia-Pasifik meningkat dua kali lipat dari tingkat global, menempatkannya di jalur yang akan berlipat ganda pada tahun 2040. Walaupun adanya peningkatan permintaan akan daya listrik, namun mereka bertekad untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 20,8% pada tahun 2030, untuk itu pemerintah Thailand telah memperluas sistem insentifnya untuk produsen energi hijau. Keringanan pajak, feed-in tariff, akses yang lebih mudah ke pembiayaan, program penawaran, skema pengukuran, perdagangan peer-to-peer berbasis Blockchain yang dihasilkan oleh energi matahari, dan program pembangkit listrik yang berpusat pada masyarakat yang disebut Energy for All adalah contoh inisiatif dari pemerintah yang bertujuan meningkatkan produksi dan penggunaan energi hijau. Saat ini, Thailand telah memasang kapasitas energi terbarukan lebih dari 15 gigawatt (GW), dan diperkirakan akan meningkat menjadi lebih dari 60 GW pada tahun 2037.

Sementara itu, produksi energi terbarukan terus meningkat. Selama dekade terakhir, produksi tenaga angin di Thailand mengalami pertumbuhan tahunan rata-rata 89%, dengan peningkatan produksi tenaga surya mendekati 83%. Tentu saja, tingkat yang seperti itu tidak dapat berlanjut seterusnya; tenaga surya diperkirakan akan tumbuh “hanya” 10% setiap tahun hingga 2030, sementara tenaga angin tidak mungkin meningkat banyak dalam waktu dekat, begitulah ucap Kudun and Partners Ltd.

Namun secara keseluruhan, produksi energi terbarukan tetap menjadi sektor yang berkembang yang akan tetap sangat diminati. Dari bahan baku biomassa dan teknologi baterai hingga sistem digital yang memungkinkan perdagangan energi, dan elemen lain dari ekonomi energi hijau yang maju, peluang bisnis di industri ini tetap berlimpah secara nasional, kata laporan analisis.

 

Follow the links for more news on

Summit Power International menyediakan dukungan LNG yang vital untuk Bangladesh

Tanpa pasokan listrik cross-border, LNG diperlukan oleh negara yang menghadapi kendala geografis untuk menerapkan sumber energi terbarukan.

JERA, mitra unit PT PLN untuk pengembangan rantai nilai LNG

MOU juga mencakup studi kemungkinan konversi ke hidrogen, rantai nilai amonia.

VOX POP: Bagaimana teknologi vehicle-to-grid dapat meningkatkan transisi energi?

Teknologi vehicle-to-grid (V2G) dipandang sebagai inovasi revolusioner menuju ketahanan jaringan listrik dan peningkatan transisi energi yang kokoh.

IDCTA: Partisipasi global dapat meningkatkan penjualan kredit karbon Indonesia

Pasar karbon Indonesia yang baru dibuka memiliki sebanyak 71,95% kredit karbon yang belum terjual pada akhir 2023.

Bagaimana Asia Tenggara dapat mencapai potensi biogasnya

Kawasan ini hanya memiliki sekitar satu gigawatt kapasitas dengan Thailand, Indonesia, dan Malaysia memimpin dalam hal produksi.

Filipina siap untuk transisi energi, tetapi targetnya bisa lebih tinggi

Energi terbarukan negara tersebut menyumbang sebanyak 22% dari bauran energi hingga 2022.

Singapura menghadapi hambatan biaya dan investasi dalam mendorong penggunaan hidrogen

Pengembangan teknologi yang signifikan akan memungkinkan Singapura menghasilkan 50% dari daya listriknya dari hidrogen beremisi rendah pada 2050.

ACEN, Barito akan mengakuisisi aset pengembangan energi angin di Indonesia

Barito akan memegang saham sebesar 51%, sementara ACEN akan memiliki 49% saham dalam aset energi angin tersebut.

JERA, PT Pertamina tandatangani kesepakatan untuk meningkatkan rantai nilai LNG dan hidrogen

Kerja sama ini akan mencakup peningkatan rantai nilai bahan bakar Indonesia.