, APAC

Mengucapkan selamat tinggal pada daya termal? Ini akan menjadi perjalanan yang panjang

Kapasitas 1.5TW berbahan bakar batubara di Asia masih berada di 'kondisi awt muda,’ kata Mike Thomas dari The Lantau Group.

Sementara teknologi yang muncul untuk mendukung transisi energi, para ahli dari berbagai negara Asia berpendapat bahwa menjauhi energi termal, seperti batubara, di Asia akan memakan waktu setidaknya 20 tahun lagi karena adanya kebutuhan untuk memastikan keamanan energi.

Di Asia, Cina memiliki kapasitas batubara terbesar yaitu 1.050 gigawatt (GW), diikuti oleh India sebesar 198,6GW. Secara keseluruhan, kapasitas pembangkit listrik tenaga batubara di kawasan ini saat ini berada di 1,5 terawatt, dengan sebagian besar pembangkit listriknya berusia 15 tahun ke bawah.

"Saya pikir mengingat kondisi kapasitas termal yang masih muda di Asia, Jika Anda berpikir tentang perpisahan yang panjang, kita masih berbicara sekitar 20 tahun, [mungkin sekitar] 2040-an," kata Managing Director dari The Lantau Group, Mike Thomas dalam Asian Power Thermal Energy Conference.

“Kapasitas termal sangat penting untuk keamanan energi, daya saing industri, dan keterjangkauan tarif. Jika Anda ingin mempercepat transisi itu, maka Anda membutuhkan lebih banyak uang. Itu merupakan sebuah keputusan yang perlu diambil,” katanya, seraya menambahkan bahwa sebagian besar kapasitas batubara adalah desain baru, efisien, dan super atau ultra-superkritis.

Status energi negara-negara Asia

Di Cina, Thomas mengatakan kapasitas batubara berjalan pada pemanfaatan rata-rata 50% dan ketika ada lebih banyak permintaan dan ada lebih sedikit sumber energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga air, batubara akan mengambil alih.

“Biasanya, ini adalah [sumber energi] lain, seperti gas, atau kapasitas puncak di bagian lain dunia. Tapi di Cina, itu batu bara. Jadi sekali lagi, ini sesuai dengan panggilan keamanan energi keseluruhan, rantai pasokan yang layak, dan keberlanjutan finansial. Semuanya harus cocok bersama. Anda dapat memiliki transisi energi, tetapi semuanya harus teratur di sepanjang jalan,” katanya.

Cina baru-baru ini mengalami krisis listrik di mana langkah-langkah penjatahan daya listrik diberlakukan di 20 provinsi mulai akhir September 2020. Alasan penjatahan bervariasi per provinsi tetapi termasuk pertumbuhan permintaan daya yang kuat dikarenakan konsumsi industri yang tinggi dan cuaca yang tidak sesuai musim.

Selain itu, produksi batubara domestik yang tidak mencukupi menghasilkan harga bahan bakar batubara yang tinggi, yang menyebabkan generator berbahan bakar batubara tidak mau mengoperasikan pembangkit mereka. Ada juga pembatasan provinsi dan konsumsi energi serta intensitas untuk memenuhi tujuan lingkungan, serta pembangkit yang buruk dari tenaga air dan tenaga lain seperti angin.

Thomas mencatat batubara akan dijual di pasar terbuka di mana pengguna listrik komersial dan industri akan membelinya.

Thailand, sementara itu, bukan 'negara batubara,' sebagian besar bergantung pada gas dan pengembangan energi terbarukan. Kapasitas surya komersial dan industri tumbuh 22% ke puncaknya 976 megawatt (MW). Tetapi Thomas mengatakan batubara yang terbatas tetap ada dan hanya akan keluar dari campuran pembangkitnya ketika mencapai akhir umur teknis atau kebijakan berubah menjadi hal yang negatif.

Thomas juga mengatakan permintaan listrik puncak Vietnam diperkirakan akan mencatat tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 7,8% antara 2025 dan 2030. Ada peningkatan yang signifikan dalam energi terbarukan, tetapi masih ada pembangunan beberapa batubara dan gas.

“Ini sangat sulit karena tingkat pertumbuhan untuk mendorong [daya listrik] konvensional padam di Vietnam. Batubara sebenarnya sebagian besar berusia kurang dari 10 tahun, dan sebagian kecil dari hal ini yang lebih dari lima. Jadi kita berbicara tentang pembangkit batubara yang cukup efisien dan sangat baru,” katanya.

Malaysia, sementara itu, telah berjanji untuk tidak membangun pabrik batubara baru dan akan ada beberapa penghentian pembangkit batubara sekitar 2030, katanya. Namun, basis batubara yang ada hanya akan turun ketika perjanjian jual beli listrik berakhir.

Thomas mencatat bahwa mungkin ada peluang bagi batubara yang ada untuk kembali jika ada pasar grosir atau pabrik dapat dihapus ketika kesepakatan berakhir. Itu juga bergantung pada kebijakan karbon yang muncul.

"Tetapi dari sudut pandang seumur hidup, sebagian besar batubara akan terus beroperasi di Malaysia hingga akhir 2030-an dan hingga awal 2040-an," katanya, seraya menambahkan bahwa salah satu alasan untuk ini adalah bahwa gas telah menjadi sumber marginal bahan bakar. Thomas juga mengatakan masuknya energi matahari dapat menggantikan gas, sedangkan integrasi energi yang lebih terbarukan dapat mengatasi batubara.

Batubara juga tetap menjadi bagian penting dari bauran energi Indonesia, kata CEO Adaro Power, Dharma Djojonegoro.

“Saya pikir Indonesia, pada titik tertentu, harus memilih. apakah ingin mempertahankan biaya listrik kita yang sangat kompetitif dan karenanya, masih tetap menggunakan batubara, atau tidak, melupakan ini dan beralih ke energi terbarukan lainnya? Dan saya pikir kita belum sampai pada waktu pilihan itu,” katanya.

Di Filipina, Managing Director Quezon Power, Frank Thiel mengatakan  Department of Energy, khususnya Secretary Alfonso Cusi, mengakui bahwa batubara dan tenaga termal harus tetap dalam bauran energi, dengan batubara yang terdiri dari 52% dari bauran energi negara. .

Thiel mengatakan bahwa ada moratorium terhadap pembangunan pabrik batubara baru di negara itu tetapi sekitar 3.500 MW dalam pipeline masih dapat dilanjutkan.

Quezon Power memiliki perjanjian pembelian catu daya yang ada dengan Manila Electric Co., distributor listrik di wilayah ibukota, yang akan berakhir pada Mei 2025. Thiel mengatakan mereka akan berupaya mengamankan PSA lain yang akan berjalan selama 20 tahun.

Jika penawaran tidak akan berhasil, Quezon Power akan mencari alternatif lain, seperti menjual listrik ke pemasok energi ritel, atau akan beroperasi di pasar grosir listrik di Filipina.

'Titik istirahat akhir'

Salah satu cara bagi unit termal untuk menemukan "titik istirahat akhir" mereka adalah melalui serangan, kata Thomas. Dia mencontohkan  penyimpanan baterai yang “dapat memotong the higher value evening period atau periode malam yang bernilai lebih tinggi.” Hal ini dapat mengakibatkan kenaikan biaya operasi, mengurangi efisiensi, dan meningkatkan pemeliharaan.

Cara lainnya adalah dengan mengganti unit termal selama off-peak oleh sumber energi lain seperti angin atau kalebihan kapasitas, antara lain.

Thomas mengatakan bahwa dua cara ini dapat terjadi pada saat yang sama yang dapat mengakibatkan peninjauan risiko investasi pembangkit atau nilainya melemah oleh faktor-faktor lain, yang mengarah pada penghentian pembangkit batubara daripada investasi kembali.

Pengaturan waktu juga merupakan bagian penting lain dari peralihan dari unit termal karena beberapa faktor harus dipertimbangkan sebelum mengambil tindakan seperti pengaturan kebijakan, kapasitas, biaya, dan alternatif, katanya, mencatat, bagaimanapun, bahwa persamaan ini membutuhkan waktu lama untuk membayar di Asia.

Thomas juga mengatakan harus ada "kerangka keluar terstruktur" untuk transisi energi, karena ada "pembangkit listrik yang masuk atau keluar di pasar sekaligus."

Dia mengutip EnergyAustralia Holdings Limited yang menandatangani perjanjian dengan Pemerintah Negara Bagian Victoria, Australia untuk penghentian secara teratur dari tenaga batu bara Yallourn pada 2028, empat tahun sebelum akhir umur teknisnya.

Berdasarkan perjanjian tersebut, EnergyAustralia berkomitmen pada 2026 baterai membangun skala utilitas baru berkapasitas 350 MW di Victoria dan akan menyediakan “paket transisi tenaga kerja yang komprehensif."

“Kami memiliki pasar yang seharusnya memenuhi target kapasitas dan mengembangkan energi secara efisien. Tetapi kami tidak benar-benar memiliki kerangka kerja untuk transisi energi di mana kami sebenarnya mencoba untuk mengubah dengan cara keluar dan masuk secara bersamaan,” katanya.

Alternatif dan teknologi yang muncul

Thomas mengatakan "peluang mandiri yang paling menarik secara komersial" adalah perpindahan biaya gas alam cair (LNG).

Energi berbasis LNG sering menjadi pilihan terbaik berikutnya karena “keduanya sangat bervariasi dan umumnya lebih mahal daripada pembangkit listrik batu bara yang paling efisien."

Dia juga mencatat  banyak hal akan bergantung pada harga bahan bakar karena, jika batubara, gas, dan bahan bakar fosil lainnya lebih mahal, maka hal ini akan mempercepat peningkatan energi terbarukan pada tingkat “komersial dan kebijakan."

Green hydrogen juga merupakan teknologi yang memiliki peluang bagus untuk tumbuh karena telah banyak ladang angin yang telah dibangun, menurut Managing Director Owl Energy, Tony Segadelli.

"Di Inggris, misalnya, ada kelebihan tenaga angin selama beberapa waktu dalam setahun, terdapat peluang untuk membangun pembangkit tenaga surya besar di daerah gurun, yang dapat digunakan untuk mengeluarkan hidrogen dari udara, sehingga Anda dapat menambang hidrogen," kata Segadelli, membandingkannya dengan carbon capture storage  (CCS).

Thiel dari Quezon Power juga mencatat bahwa CCS terus menjadi teknologi yang berkembang karena mahal. Dia mengatakan untuk menangkap karbon dari pabrik 100 MW, terdapat kebutuhan memasukkan pembangkit tambahan untuk menyediakan daya bagi teknologi tersebut.

Sementara itu, Djojonegoro juga mencata transisi ke energi bersih dan penghapusan batubara di Indonesia dapat diselesaikan dengan teknologi yang ada tetapi biayanya “terlarang.” Dia juga mencatat bahwa tenaga air berada di tempat-tempat terpencil, sementara itu panas bumi cenderung kecil dan mahal.

Solar atap juga muncul di beberapa pasar seperti Thailand di mana harganya tinggi tetapi Indonesia masih belum mengadopsinya, menurut Segadelli.

"Jika Anda masuk ke Jawa, Bali, harga grid relatif sangat rendah, yang mana itu bukan insentif nyata untuk membangun atap surya dalam jumlah besar," katanya. 

Dampak perubahan iklim

Perubahan iklim juga akan berdampak pada perkembangan proyek, terutama pada sektor listrik, kata CEO ERM, Sean Purdie.

Purdie mencatat gas rumah kaca telah meningkat dan di antara dampaknya termasuk mundurnya glasial dan iklim yang lebih hangat turut menyebabkan kenaikan permukaan laut. Dia mencatat bahwa perubahan iklim fisik meningkat dalam “frekuensi dan intensitas dengan setiap peningkatan marginal dalam pemanasan global."

Perubahan iklim akan menghasilkan frekuensi dan peningkatan intensitas curah hujan dalam satu hari yang berat di atas tanah serta kekeringan pertanian dan ekologi di wilayah pengeringan, katanya. Dia mencatat bahwa ini tergantung pada laju perubahan suhu.

“Hal ini mengartikan akan adanya permintaan yang tinggi atas air. Kesulitan atau peningkatan kesulitan dalam pembiayaan proyek jika Anda tidak dapat membuktikan ketersediaan pasokan air atau mengkonfirmasi bahwa Anda dapat mengakses air yang didukung oleh konfirmasi ilmiah tentang prediksi ketersediaan air misalnya, sepanjang umur proyek, 20 tahun 25 tahun, dll," katanya.

Tren masa depan dalam iklim termasuk suhu mencapai lebih dari 1,5 Celcius lebih tinggi pada 2040, dari tingkat 1800, di bawah semua skenario emisi. Mungkin tidak ada es laut musim panas (summer sea ice) di Kutub Utara, setidaknya sekali pada 2050, cuaca yang terbakar akan lebih mungkin terjadi di banyak daerah, perubahan musim hujan, dan lebih banyak curah hujan untuk dataran yang lebih tinggi dan lebih sedikit untuk ketinggian yang lebih tinggi.

“Lebih banyak kekeringan, lebih sedikit air, lebih banyak kesulitan untuk memastikan pasokan air untuk sistem pendingin dan pembangkit listrik termal misalnya. Suhu yang lebih tinggi berarti delta suhu ambien lebih rendah ke suhu operasi sehingga lebih banyak pendinginan diperlukan, [oleh karena itu] lebih banyak daya yang dibutuhkan untuk menjaga sistem tetap beroperasi,” katanya.

Di Asia Timur, Purdie mencatat bahwa curah hujan ekstrem telah meningkat di beberapa bagian wilayah  dan akan meningkat dalam frekuensi dan intensitas, yang menyebabkan lebih seringnya tanah longsor.

Kekeringan menjadi lebih sering terjadi di benua Asia Timur, sementara Asia Tengah Timur menjadi lebih basah. Dia juga mencatat bahwa laju dan peningkatan intensitas siklon tropis yang kuat telah meningkat. Jejak siklon tropis juga kemungkinan akan melintasi utara.

Di Asia Tenggara, pemanasan pada masa depan akan sedikit berkurang dari rata-rata global, sementara curah hujan akan meningkat di bagian utara dan ada penurunan di wilayah Pasifik barat. Wilayah ini juga mengalami lebih sedikit siklon tropis tetapi malah lebih ekstrem.

"Hal ini berarti analisis dan penekanan serta pemahaman yang lebih besar tentang kecepatan angin maksimum yang akan memengaruhi parameter desain, yang penting adalah parameter desain yang tepat dari setiap proyek infrastruktur, termasuk semua jenis pembangkit listrik," katanya.

 

Follow the link for more news on

ACWA dan PT PLN teken MoU baterai untuk pengembangan hidrogen hijau di Indonesia

Ini juga mencakup proyek penyimpanan pompa untuk fasilitas pembangkit listrik tenaga air.

Unit RATCH Group membeli saham Eco Energy untuk ikut mengembangkan proyek pembangkit listrik tenaga air di Indonesia

RH Internationa (Singapura) sekarang akan memegang 50% saham dalam proyek tersebut.

Rencana transisi energi Indonesia menghadapi rintangan implementasi

Indonesia dan mitra internasionalnya sepakat untuk memobilisasi pembiayaan sebesar US$20 miliar.

PLN Indonesia menandatangani perjanjian dengan Amazon untuk proyek tenaga surya 210MW

Amazon berkomitmen untuk melakukan off-take daya dari empat proyek tenaga surya.

Indonesia mendapatkan $20 miliar di bawah Just Energy Transition Partnership

Rencana Indonesia termasuk memuncaknya total emisi sektor listrik pada 2030.

Apa yang bisa mengeringkan potensi tenaga air Laos

Pasar Laos siap untuk menjadi pengekspor listrik utama di Asia Tenggara.

Pertamina mendukung target net-zero Indonesia 2060

Indonesia menaikkan target pengurangan emisi karbon menjadi 31,89% pada 2030.

Laba bersih Adaro Energy melonjak 366% YoY dalam sembilan bulan pertama

Hal ini didukung oleh kenaikan harga jual rata-rata.

Laporan IRENA: Biaya energi terbarukan saat ini semakin efektif bagi Indonesia

Penghematan biaya energi diperkirakan bernilai US$400 miliar-600 miliar hingga 2050.