, Hong Kong

Di mana posisi Hong Kong dalam target bebas karbonnya sekarang?

Kota ini sekarang menerapkan beberapa langkah pengurangan emisi yang bertujuan untuk menjadikannya sebagai kota bebas karbon pada tahun 2050.

Hong Kong telah menunjukkan langkah-langkah bagaimana cara menstabilkan emisi karbonnya, mereka dengan hati-hati mengatur kegiatan ekonomi selaras dengan tujuan lingkungan yang telah ditetapkan, yaitu; bebas karbon sebelum tahun 2050. Selain itu, pemerintah Hong Kong telah menerapkan beberapa strategi baru dalam pengelolaan limbah, pasokan energi, dan bangunan hijau sebagai bagian dari upaya yang dapat dibilang ambisius tersebut.

Sejak tahun 2000, Hongkong telah mengalami peningkatan emisi gas rumah kaca, meskipun telah ada upaya mengurangi dan menstabilkannya sejak akhir 1990-an.

Laporan dari Hong Kong Legislative Council menunjukkan bahwa emisi karbon di wilayah tersebut memuncak pada 2014, meningkat hampir 45 juta ton per tahun. Di antara beberapa sumber emisi gas rumah kaca di Hong Kong, pembangkit listrik selalu menyumbang persentase tertinggi. Pembangkit listrik menyumbang sekitar 65% pada tahun 2017.

Batubara juga tetap menjadi bahan bakar yang paling dominan dalam memenuhi permintaan daya, yang mana masih menyumbang sekitar 25% dari campuran bahan bakar meskipun bagiannya menurun.

Walaupun tingkat intensitas karbon Hong Kong masih tinggi, beberapa upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk menstabilkannya dan diharapkan pada waktunya dapat menurun. Pada tahun 2010, mereka berjanji untuk mengurangi intensitas karbon hingga setengahnya sampai 60% dari tahun 2005. Kemudian Hong Kong juga berjanji untuk menurunkan intensitas karbon setidaknya 65%, sementara membuat komitmen baru mengurangi emisi per kapita setidaknya 37% sebelum 2030.

Namun, Hong Kong masih jauh dari target kebijakan tersebut. Realisasinya, mereka hanya berhasil mengalami penurunan intensitas karbon 35%, dan penurunan 8% emisi per kapita antara tahun 2005 dan 2017. Oleh karena itu, pemerintah Hong Kong mulai membuat perubahan kebijakan yang lebih mendesak, termasuk mengalihkan campuran bahan bakar dalam pembangkit listriknya.

Meningkatnya ketergantungan pada energi terbarukan dan gas

Salah satu langkah utama Hong Kong untuk mengurangi emisi karbon adalah meningkatkan pangsa energi terbarukan dalam total campuran energinya. Hal ini termasuk penyebaran lebih banyak pada tenaga angin  lepas pantai, tenaga surya, pembangkit waste-to-energy, dan juga peningkatan impor listrik dari daratan Cina.

Data dari Legislative Council mengungkapkan bahwa energi terbarukan hanya menyumbang sekitar 0,8% dari total penggunaan energi antara 2011 dan 2017. 

Mengingat nilai tersebut masih sangat rendah, pemerintah, bersama dengan perusahaan listrik lokal, CLP Power dan Hong Kong Electric, memperkenalkan skema feed-in tariff pada tahun 2017 yang telah digunakan sebagai cara untuk mendorong sektor swasta untuk berinvestasi dalam energi terbarukan. Dalam skema tersebut, baik pelanggan bisnis maupun perorangan diberi insentif untuk memasang sistem photovoltaic surya atau tenaga angin di lokasi mereka untuk menjual output energi terbarukan mereka dari HK $ 3 hingga HK $ 5 per kilowatt-jam.

Selanjutnya, penelitian dari Asia Pacific Economic Cooperation mengungkapkan bahwa campuran generasi di Hong Kong juga akan berubah secara signifikan di tahun-tahun mendatang, dengan pemerintah berencana untuk meningkatkan pangsa gas alam dalam pembangkit listrik menjadi 50%. Pembangkit listrik tenaga batubara diperkirakan akan dihapus pada tahun 2035, dan pembangkit listrik tenaga gas akan berkembang dari 35% campuran bahan bakar pada tahun 2016 menjadi 78% pada tahun 2050.

Baik CLP dan HK Electric secara aktif berkontribusi pada target ini

CLP milik Black Point Power Station saat ini terdiri dari satu unit 550 megawatt (MW) yang baru dibangun, lima unit 337,5-MW, dan tiga unit 312,5-MW, dengan satu unit 550-MW tambahan yang sedang dibangun. Unit 550-MW yang baru memungkinkan CLP untuk mencapai target sekitar 50% pembangkit listrik berbahan bakar gas, sesuai dengan target pemerintah, tahun lalu. 

Sementara itu, Lamma Power Station HK Electric baru-baru ini menugaskan L10, unit pembangkit berbahan bakar gas 380 MW, yang telah meningkatkan pembangkit listrik berbahan bakar gas untuk konsumennya sekitar 50%, yang juga sejalan dengan target pemerintah. Dua lagi unit pembangkit berbahan bakar gas 380 MW, L11 dan L12, yang saat ini sedang dibangun.

Namun, kedua perusahaan listrik harus menyelesaikan pembangunan tiga unit pembangkit berbahan bakar gas pada tahun 2024. Arahan ini adalah bagian dari memorandum tentang pembatasan baru pada tunjangan emisi tahunan, sebagaimana disetujui oleh  Legislative Council.

Ini akan membawa proporsi pembangkit gas lokal menjadi sekitar 57% dari total campuran bahan bakar untuk pembangkit listrik pada tahun 2024.

Kedua perusahaan listrik juga akan terus memperoleh batubara rendah emisi untuk pembangkit listrik dan mempertahankan kinerja perangkat kontrol emisi untuk mengurangi emisi dari unit pembangkit listrik tenaga batu bara.

Dorongan energi terbarukan terus berlanjut

Sebagian upaya dari Pemerintah Hong Kong untuk menghasilkan energi terbarukan yang lebih besar sendiri terbatas, karena kurangnya lahan dan kendala pembangunan lainnya. Tetapi telah berhasil mencapai kemajuan selama beberapa tahun terakhir.

Dalam sebuah kesempatan, Finance Secretary, Paul Chan, mengatakan bahwa pemerintah akan menyisihkan HK $ 1b tambahan untuk digunakan pada lebih dari 80 proyek. Proyek tersebut terdiri dari pemasangan sistem energi terbarukan skala kecil sebagai tambahan pada bangunan dan instalasi untuk pemerintah. Sekaligus diberikannya dana HK $ 150 juta untuk melakukan audit energi dan memasang peralatan hemat energi untuk organisasi non-pemerintah.

"Semua langkah ini dapat membantu Hong Kong maju menuju target netralitas karbonnya, dan juga akan menciptakan lapangan kerja," kata Chan.

Para pemimpin Hong Kong juga telah menunjukkan dukungan untuk pengembangan pembangkit tenaga angin lepas pantai, dengan Hong Kong Electric yang mempunyai rencana untuk memasang turbin angin lepas pantai di dekat Pulau Lamma dengan total kapasitas pembangkit 100 MW. Ini diharapkan menghasilkan 175 gigawatt-jam listrik per tahun sekali beroperasi.

"Analisa sumber daya angin menunjukkan bahwa lokasi tersebut layak untuk pengembangan pembangkit tenaga angin lepas pantai," ucap perusahaan tersebut kepada investor. “Pemantauan angin masih berlangsung dengan tujuan mengumpulkan data tambahan untuk mengoptimalkan desain pembangkit tenaga angin lepas pantai."

CLP juga mempertimbangkan kelayakan membangun pembangkit tenaga angin lepas pantai di perairan tenggara Hong Kong.

"Proyek ini telah dipertimbangkan selama beberapa waktu, tetapi kemajuan terbaru dalam teknologi generator turbin angin dan rantai pasokan yang makin matang di wilayah tersebut membuatnya tampak lebih layak," katanya.

Pada bulan Maret tahun ini, Environment Secretary, Wong Kam-sing, juga berbicara dalam sebuah webinar untuk membahas peluang yang timbul dari janji netralitas karbon Hong Kong kepada komunitas bisnis dari Eropa.

Kata Wong, selama webinar, bahwa kawasan tersebut telah mengeksplorasi berbagai solusi untuk memerangi perubahan iklim, termasuk “mencari lebih banyak energi nol emisi karbon, mengadopsi teknologi hemat energi, mempromosikan penggunaan kendaraan listrik yang lebih luas, dan meningkatkan pengurangan dan daur ulang limbah, seperti mengoptimalkan pengembangan fasilitas Waste to Energy, untuk mengubah limbah menjadi sumber daya yang berharga."

Bergerak menuju target

Lewat keaktifan upaya pemerintah Hong Kong mencapai netralitas karbon pada tahun 2050, kedua perusahaan listrik juga secara proaktif menyambut upaya tersebut.

CLP bertujuan untuk mendukung kawasan yang ada melalui promosi pengembangan energi terbarukan, membantu pelanggan meningkatkan efisiensi energi mereka, dan memantau dengan cermat perkembangan teknologi terbaru dalam energi nol-karbon baru.

“Kami melihat adanya perubahan yang signifikan, adanya peningkatan dan percepatan. Hal ini akan menciptakan peluang lebih lanjut, mengingat posisi kuat kami di pasar,” kata CEO CLP Richard Lancaster dalam laporan perusahaan tahun 2020.

Di sisi lain, HK Electric ingin terlibat dengan pemerintah, termasuk untuk  mengeksplorasi penggunaan energi nol emisi karbon dan teknologi pengurangan karbon yang lebih luas.

"Keberlanjutan menyatu dengan kuat ke dalam etos kami dan kami sekarang telah mengatur kembali struktur kami bersama dengan Komite Keberlanjutan yang baru untuk mengarahkan upaya kami di bidang ini," kata HK Electric Chairman, Fok Kin Ning, dalam laporan perusahaan tahun 2020.

Ketika Hong Kong bergerak maju, Hong Kong harus terus mempromosikan energi terbarukan dan mencari solusi inovatif untuk mengatasi kendala di darat, yang keduanya akan bermanfaat untuk mencapai target mereka.

Pada saat yang sama, pemerintah juga harus bekerja lebih jauh dengan para pemangku kepentingan untuk mengatasi masalah-masalah dalam upaya mencapai netralitas karbon.

Follow the link for more news on

Filipina menganggap nuklir sebagai solusi potensi krisis beban dasar listrik

Tetapi amandemen undang-undang energi diperlukan, menurut Direktur DOST-PNRI Carlo Arcilla.

Ambisi nuklir Asia Tenggara berbenturan dengan opini publik

Pada 2023, terdapat 422 reaktor tenaga nuklir yang beroperasi di dunia, tetapi tidak ada satupun berasal dari Asia Tenggara.

Kesepakatan ETM ACEN yang sukses menandai era baru divestasi batu bara

Transaksi ETM memungkinkan pensiun dini bagi Pembangkit Listrik South Luzon Thermal Energy Corp.

Perang di Ukraina dapat membuka jalan bagi ketahanan energi Asia

Kepemilikan domestik atas pembangkit listrik akan menjamin pasokan energi yang memadai.

Pengurangan biaya produksi hidrogen hijau bergantung pada dukungan pemerintah

Hidrogen dapat mengurangi 10% dari total emisi untuk memenuhi target net-zero global, menurut IRENA.

Model pengembangan bertahap KS Orka meningkatkan keberhasilan proyek panas bumi

Dengan menerapkan strategi ini, perusahaan dapat memitigasi risiko kerugian $5 juta dari pengeboran satu sumur.

VENDOR VIEW: Bagaimana harga tenaga batu bara di Asia di tengah kesengsaraan keamanan energi

Peningkatan produksi batu bara di beberapa pasar Asia mungkin bersifat jangka pendek.

Bisakah listrik berbasis batu bara masih mendapatkan pendanaan

Pasar Asia telah meningkatkan produksi batu bara untuk memenuhi permintaan energi.

ACWA dan PT PLN teken MoU baterai untuk pengembangan hidrogen hijau di Indonesia

Ini juga mencakup proyek penyimpanan pompa untuk fasilitas pembangkit listrik tenaga air.

Regulasi baru Indonesia mempercepat transisi energi

Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022 untuk membatasi pembangkit listrik tenaga batu bara dan secara bertahap mengurangi konsumsi batu bara.